MANAJEMEN PENDIDIKAN ISLAM

Loading...

Selasa, 12 Januari 2010

makalah metode kajian islam perspektip antropologi

BOOK REVIEW

SYAIKH AHMAD SURKATI (1874 – 1943)
PEMBAHARU DAN PEMURNI ISLAM
DI INDONESIA


Diajukan dalam diskusi kelas dalam mata kuliah
Metode dan Pendekatan Kajian Islam Perspektif Antropologi
yang dibina oleh Bapak Dr. Syamsun Ni’am, M.Ag












Oleh :

MUHASIB
NIM : 084 099 007





PROGRAM PASCA SARJANA
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) JEMBER
OKTOBER 2009

A.PENDAHULUAN
Adalah Haji Zamzam pendiri Persatuan Islam Kiai Hasyim Ashari pendiri Nahdlatul Ulama dan Kiai Ahmad Dahlan Pendiri Muhammadiyah serta Ahmad Surkati Pendiri Al – Irsyad.
Mereka adalah pejuang agama dan negara. Yang tak hanya membaktikan dirinya pada pengembangan agama yang dibawa Rasulullah SAW akan tetapi turut juga menyuburkan semangat nasionalisme yang mengantarkan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945.
Bila Haji Zamzam, Kiai Hasyim Ashari atau Kiai Ahmad Dahlan hingga kini dibicarakan dan dikenang dengan penuh hormat, tidak demikian dengan Ahmad Surkati, pendiri Al – Irsyad yang bahkan dikenal sebagai guru Haji Zamzam, Ahmad Dahlan dan Al – Hasan ini bagai “anak hilang” dalam sejarah pergerakan sejarah di negeri ini.
Mungkin ketakpopuleran Ahmad Surkati berkaitan dengan sifat dan dasar berdirinya Al – Irsyad yang berbasis masa keturunan Arab, konsentrasi garapan organisasi ini di bidang sosial dan pendidikan. Mungkin pula surkati hanyalah imigran asal Sudan, dan bukan tokoh asli pribumi, factor lain barang kli ketidak sukaan Ahmad Surkati dan Al – Irsyad sendiri terhadap kultus individu, sebagaimana yang apa yang telah diperjuangkannya sejak berdiri organisasi ini sejak tahun 1913.
Surkati dilahirkan dipulau Arqu dekat Dongola pada tahun 1875 atau 1876. Dia berasal dari keluarga berpendidikan, ayah dan kakeknya menempuh pendidian di mesir dan ayahnya lulusan Al – Azhar. Surkati menerima pendidikan awal dari ayahnya serta menghafal Al – Qur’an pada usia belia. Ahmad Surkati dengan nama lengkapnya adalah Ahmad Bin Ahmad Surkari Al – Ashari, banyak belajar agama dari ayahnya, Muhammad seorang terpelajar lulusan Al – Azhar Kairo Mesir. Belajar dan menetap di Hejaz selama 15 tahun, untuk menimba ilmu – ulmu hadist. Dan karena kecerdasannya ia di minta mengajar di Mekkah.
Melihat sukses yang dicapainya di Mekkah, wajar bila orang merasa keheranan Surkati menerima undangan suatu organisasi kecil (jamiat khair), berpindah dari kota suci islam kedaerah jajahan yang jauh. Kepindahan ini di bicarakan luas oleh kalangan muslim melalui dunia pers arab internasional. Surkati sendiri menyatakan bahwa ia berpindah ke hindia karena ia merasa dapat lebih menyumbang dan lebih bermanfaat bagi islam di sini. Ia berkata,”antara kematianku mengejar iman di jawa dan kematianku tanpa mengejar iman di makkah, aku memilih jawa”.
Dan pahlawan ahmad surkati adalah terhadap praktek – praktek beragama yang menyimpang serta heterodoks (yang di pengaruhi animism, hindu, dan budha). Maka dari itu surkarti memandang perlu praktek – praktek agama tersebut dikembalikan pada ajaran yang benar.

B.BIOGRAFI PENULIS
Prof. Dr. Bisri Affandi, MA. Kelahiran kediri pada tanggal 17 Mei 1938. Adalah mantan Rektor IAIN Sunan Ampel (1987) dengan pendidikan terakhirnya M.A. Islamic Studies, Mc Gill University, Montreal, Canada (1976), telah banyak karya tulis ilmiahnya yang telah di terbitkan. Dan buku SYAIKH AHMAD SURKATI (1874 – 1943) PEMBAHARU DAN PEMURNI ISLAM DI INDONESIA, adalah salah satu buku terbitannya.

C.PEMBAHASAN
1.Jejak Langkah
Buku dengan tebal sebanyak 271 halaman ini, terdiri dari 6 bab pembahasan , yang merupakan sistematika pembahasan biografi dan pemikiran Surkati. Pada bab I bagian dari buku dengan judul Jejak Langkah, membahas tentang pribadi Ahmad Surkati dan keberangkatan petualangannya dalam belajar dan mengembangkan agama.
Sebutan “Surkati” yang berarti “banyak kitab” (Sur menurut bahasa setempat artinya “kitab”, dan katti menunjukkan pengertian “banyak”) . Nama lengkapnya adalah Ahmad bin Muhammad Surkati al-Ansari. Sebutan al-Ansari di belakang namanya diambil dari nama Jabir bin Abdullah Al-Ansari, yang di yakini ayahnya Muhammad. Masih mempunyai hubungan kekerabatan dengannya.
Sehabis dari Ma’had Sarqi Nawi di Dongola, ayahnya menginginkan Surkati juga menimba ilmu dimana ayahnya dulu pernah belajar, yakni Al – Azhar Mesir, namun hal itu tidak terlaksana dikarenakan pemimpin mesir ketika itu Abdullah Al – Ta’ayishi, tidak memperkenankan siapa saja orang sudan pergi ke Mesir. Dan Sudan saat itu (abad 19) di bawah kekuasaan Mesir, akan tetapi Surkati beragkat ke Mekkah pada tahun 1314 H/1896 M untuk menimba ilmu. Namun ia tak lama tinggal di Mekkah dan menuju ke Madinah memperdalam ilmu agama islam dan bahasa Arab. Guru – guru Ahmad Surkati di Madinah antaranya adalah dua ulama besar ahli hadist di Maroko, syeh Salih dan syeh Umar Hamdan. Ia juga belajar Al-Qur’an pada ulama ahli qira’at, yakni Syekh Muhammad Al-Khuyari Al-Maghribi ; belajar fikih dari ahli fikih yang tergolong wara’, yaitu Syekh Ahmad bin Al-Haji Ali Al-Mahjub dan Syekh Mubarak Al-Nismat; serta berguru bahasa Arab dari ahli bahasa bernama Syekh Muhammad al-Barzanji. Setelah itu ia kembali lagi ke Makkah dan menetap selama 11 tahun untuk belajar dan memperdalam ilmunya, terutama fiqh madzhab syafi’i. Hingga mendapat gelar al-Allamah dari Majlis Ulama Makkah. Dan Ahmad Surkati adalah satu – satunya orang Sudan yang pertama kali namanya terdaftar sebagai ulama Makkah.
Sejarahnya tiba Indonesia adalah ketika ia didatangkan oleh Pengurus Jamiat Khair, suatu perguruan yang pengurus dan anggotanya terdiri dari orang-orang Indonesia keturunan Arab. Maksud pengurus Jamiat Khair mendatangkan Ahmad Surkati ialah dalam rangka memenuhi kebutuhan guru. Menurut Deliar Noer, sekolah Jamiat Khair bukan lembaga pendidikan yang semata-mata bersifat agama, tetapi juga mengajarkan berhitung, sejarah, dan pengetahuan umum lainnya. Kemudian terjadi pereselisihan antara Ahmad Surkati dengan pengurus Jamiat Khair disebabkan ketersinggungan kaum Alawiyin terhadap “fatwa solo” Ahmad Surkati yang menegaskan bahwa perkawinan antara keturunan Alawi dengan non Alawi adalah boleh menurut syara’. Sehingga dengan semua ini berakhir kepada tidak dipakainya lagi Ahmad Surkati di lembaga tersebut dan ia mengundurkan diri pada tanggal 15 Syawwal 1332 H, bertepatan dengan 6 September 1914.
Pada saat itu, para pemuka masyarakat Arab Jakarta dari golongan non -Alawi , Umar Manggusy dan kawan – kawan menemui Ahmad Surkati dan memintanya untuk tidak kembali ke Makkah dan mengajaknya pindah untuk memimpin sebuah madrasah di Jati Petamburan. Dan Ahmad Surkati menerima ajakan dan permintaan tersebut tepat pada hari diama ia mengundurkan diri dari Jamiat Khair. Dan pada saat itu juga madrasah yang baru ia terima untuk dikelola dinamainya dengan Madrasah Al-Irsyad al-Islamiyyah. Bersamaan dengan itu dia juga menyetujui didirikannya Jam’iyat Al-Islah wa Al-Irsyad Al-Arabiyah. Bagi pemuka – pemuka Arab yang bukan dari golongan Alawi, keluarnya Ahmad Surkati dari Jamiat Khair dipandang sebagai awal kebangkitan dan perjuangan memperoleh persamaan derajat serta keadilan.. Sebab itu, mereka menyebut perpisahan Ahmad Surkati dengan Jamiat Khair sebagai “perpisahan di jalan Allah”.


2.Pembaharuan Islam di Indonesia
Ahmad Surkati bukan hanya dikenal sebagai seorang pemimpin terkemuka masyarakat Indonesia keturunan Arab tapi juga seorang tokoh penting dalam gerakan reformasi Islam. Ahmad Surkati berpisah dengan Al-Jam’iyat al-Khairiyah dan mendirikan gerakan Al-Irsyad pada 1913. Gerakan inilah yang kemudian mencoba mengembangkan ide pembaharuan Islam di Indonesia, tak terbatas hanya di kalangan warga keturunan Arab. . Ketika mendirikan Al-Irsyad Ahmad Surkati beruntung dengan bergabungnya teman-temannya, sesama guru dari Sudan, yang sebelumnya sudah mengenal karya – karya Mohammad Abduh dan Rasyid Ridha. Guru – guru asing ini, walaupu berjumlah kecil, ternyata menjadi pusat jaringan komunikasi yang secara sinambung menyalurkan pemikiran Islam modern dai Timur Tengah ke Jawa. Ahmad Surkati memberikan kontribusi yang besar pada lahir dan berkembangnya pembaruan Islam di Jawa secara keseluruhan.
3.Masyarakat Arab di Indonesia
Menurut pendapat Snouck Hurgronje, selama empat abad pimpinan agama Islam di Indonesia berada di tangan orang-orang India dan baru pada abad XVI pengaruh itu masuk di Indonesia melalui dua jalan, dari Hadramaut dan dari Makkah.
Kedatangan orang-orang Arab ke Indonesia sudah terjadi sejak abad ke-7 Masehi. Menurut Arnold, Coromandel dan Malabar Islam, pedagang Arab juga menyebarkan Islam ketika mereka dominan dalam perdagangan Barat-Timur sejak abad ke-7 dan ke-8 Masehi. Meskipun tidak terdapat catatan-catatan Sejarah tentang kegiatan mereka dalam penyebaran. Dari penjelasan ini dapat dibuktikan mengenai awal kedatangan orang-orang Arab di Indonesia. Senada dengan pendapat di atas, berpendapat juga bahwa Migrasi orang-orang Arab ke Indonesia terjadi jauh sebelum proses Islamisasi pada abad ke-15 dan abad ke-16. Selama berabad-abad lalu orang Arab sudah berdatangan ke Hindia Belanda. Mereka yang kebanyakan adalah pedagang, bersama dengan berbagai bangsa Timur Asing lainnya membentuk jalur komersial dimulai dari Mesir hingga Cina. Kelompok imigran terbesar bangsa Arab datang dari Hadramaut. Hal itu diperkuat dengan jenis marga yang dimiliki oleh orang-orang Arab yang ada di Indonesia hingga saat ini. Seorang pejabat suku Hadrami (sebutan untuk pendatang Arab asal Hadramaut) berkata, “tak banyak Negara lain yang mayoritas penduduk penduduknya tinggal di daerah lain”. Karena imigran dari negara lain hanya bertujuan hanya untuk berdagang. tidak untuk menetap. Hal ini diperkuat pendapat Morley , bahwa “bangsa Hadrami yang datang ke daerah Asia Tenggara pada mulanya hanya berniat untuk berdagang, dan baru berniat untuk menetap mulai tahun 1750 ke atas. Sedangkan orang arab dari negara lain, seperti Persia dan Arab Saudi mereka kembali setelah urusan dagangnya selesai. Namun tidak begitu halnya orang Arab Hadrami, sejak tahun 1750 mereka sudah menetap dan memiliki komunitas.
Dalam proses pelayaran, tentunya tidak langsung tiba ke tempat tujuan. Adanya halangan atau rintangan seperti cuaca yang tidak bersahabat, mengharuskan mereka berlabuh di tempat yang searah dengan jalur pelayarannya. Orang Arab yang berlayar ke Malaka dari negerinya sendiri, yaitu Hadramaut, mereka singgah dan berlabuh di salah satu pelabuhan India. Di sana sambil menunggu waktu yang baik untuk melanjutkan kembali pelayarannya, mereka tinggal bebarapa saat di perkampungan-perkampungan yang besar. Tercatat pula Ibnu Batutah, penjelajah Arab termasyhur, yang sempat singgah selama dua bulan pada tahun 1347 (semasa tahta Al-Malik Al-Zahir) menunggu perubahan cuaca di masa musim hujan. Selain singgah, tampaknya ia bertemu dengan sejumlah teman sebangsa dan seagama. Di abad ini, daerah pemukiman komunitas Arab hanya berada di beberapa tempat penting di pesisir pulau Sumatera. Perkampungan mereka ini kemudian tumbuh sebagai tempat mereka berdagang.
“Teori Arab” yang disampaikan oleh Nieman dan de Hollander dengan sedikit revisi; mereka memandang bahwa pembawa Islam ke Indonesia adalah Hadramaut, Yaman Selatan. Orang Arab pertama kali datang ke Indonesia, berdasarkan sumber Cina, bahwa akhir abad ke-13 seorang pedagang Arab menjadi pemimpin sebuah pemukiman Arab muslim di pesisir pantai Sumatera. Sebagian orang-orang Arab ini dilaporkan melakukan perkawinan dengan wanita pribumi, sehingga membentuk suatu komunitas Muslim yang terdiri orang-orang Arab pendatang dan penduduk lokal.
“Teori Arab” diatas berhubungan dengan pendapat Hussein Badjerei dalam bukunya “Al-Irsyad Mengisi Sejarah Bangsa”. Menjelaskan bahwa pada tahun permulaan abad ke-19, para perantau Arab itu sudah menjadi penduduk kota-kota besar di Indonesia. Umumnya mereka adalah pedagang. Bagian terbesar dari mereka itu berasal dari Hadramaut. Mereka merantau ke Indonesia tanpa membawa istri-istri mereka. Sebagian besar dari mereka kemudian menikahi perempuan-perempuan Indonesia, kemudian beranak pinak dan tidak kembali lagi ke negeri asalnya.
Imigran Arab dari Hadramaut, dimana mereka dibagi dalam tiga kelas masyarakat; yaitu pertama, orang-orang biasa dan kelas bawah di Hadramaut, termasuk pedagang kecil. Kedua, orang-orang terpelajar yang dengan bangga mendapat gelar Syaikh dan dianggap sebagai pemimpin agama. Di Hadramaut para Syaikh ini menyukai posisi tinggi mereka. Ketiga, golongan Sayyid yang menganggap dirinya keturunan langsung Nabi Muhammad SAW. Mereka berasal dari garis keturunan Sayyid Basrah, Ahmad Al-Muhajir yaitu cucu ketujuh dari Husain.
Van den Berg berpendapat bahwa di antara sekian banyak suku Arab, penduduk Hadramaut dikenal sebagai suku pengembara, tidak ubahnya dengan suku Bugis dan Minangkabau di Indonesia. Namun bukan saja di Asia Tenggara, bisa dijumpai pula keturunan Arab Hadrami, bahkan hampir merata di negeri Arab Hadramaut, India dan Afrika sekalipun. Menurut mantan sekretaris Raja Faisal, Sheikh Abdullah Kamil, ada tiga karakteristik menonjol dari pendatang Hadramaut di Saudi yang mengantar kesuksesannya di bidang ekonomi. Kewiraswastaan, kejujuran dan loyalitas.
4.Pemikiran, Pemurnian Ajaran Islam
Apa yang dilakukan Ahmad Surkati sesungguhnya dilatar belakangi adanya pelapisan sosial masyarakat Hadrami dimana kaum Alawi yang dipercayai sebagai keturunan Ali-Fatimah (menantu dan anak Rasulallah) dianggap mempunyai kemuliaan (tafadul) tersendiri. Dengan kemuliaaan itu mereka mendapatkan kedudukan istimewa. Namun, bersamaan dengan keistimewaan itu, ada kebodohan yang berkembang subur, yakni kaum Alawi memandang rendah para ikmuwan non Alawi. Bahkan lebih jauh lagi, ada keyakinan bahwa orang sharif atau sayyid berhubungan dengan masalah nasib dan keselamatan dunia akhirat, yakni sebagai wali (wasilah) antara manusia dan Tuhan. Yang demikian ini mendapat sambutan positif warga keturunan Arab non Alawi. Dan pemikirannya dianggap sebagai tonggak musawah , yakni persamaan derajat dan egaliter. Yang ketika itu bahkan sampai saat ini sikap diskriminatif kaum Alawi kepada non Alawi masih terjadi. Konsep gerakan pembaharuan yang digali Ahmad Surkati, bersama guru-guru yang datang dari timur tengah, telah dirumuskan dalam bentuk Mabadi Al-Irsyad, yaitu Mengesakan Allah dengan sebersih-besihnya, pengesaan dari segala hal yang berbau syirik, mengikhlaskan ibadah kepada-Nya dan meminta pertolongan kepada-Nya dalam segala hal.
1.Mewujudkan kemerdekaan dan persamaan di kalangan kaum muslimin dan berpedoman kepada Al-Qur’an, Assunnah, perbuatan para imam yang syah dan perilaku ulama salaf dalam persoalan khilafiyah.
2.Memberantas taqlid buta tanpa sandaran akal dan dalil naqli
3.Menyebarkan ilmu pengetahuan, kebudayaan Arab-Islam dan budi pekerti luhur yang diridloi Allah.
4.Berusaha mempersatukan kaum Muslimin dan bangsa Arab sesuai dengan kehendak dan ridlo Allah.

D.KRITIK
Terdapat perbedaan tahun kelahiran Ahmad Surkati dalam keterangan antar buku yang berbeda. Dalam bukunya Bisri Affandi ini diterangkan bahwa Ahmad Surkati lahir pada tahun 1874. Berbeda dengan keterangan Anis Baswedan dalam bukunya Hadrami Awakening yang menjelaskan secara ragu yakni antara tahun 1875 atau 1876. Hal ini mungkin saja terjadi, bahkan dalam buku yang lain mungkin, karena pembahasan tentang sejarah kemungkinan perbedan perspektif pasti terjadi. Namun perbedaaan ini tidak terlalu signifikan dibanding sumbangsih pemikiran – pemikiran Ahmad Surkati sebagai pembaharu dan pemurni Islam di Indonesia.

E.PENUTUP
Dari seluruh data yang dikaji, baik yang bersumber dari dokumen maupun pendekatan oral history, jelas bahwa Ahmad Surkati adalah pembaharu dan pemurni ajaran Islam yang konsentrasi pemikirannya ditujukan ke kalangan masyarakat Arab Indonesia asal Hadramaut. Bahwa pemikiran – pemikirannya juga berpengaruh terhadap pembaharuan dan pemurnian Islam di Indonesia, tak lain adalah konsekwensi implikatif dari adanya kesamaan waktu. Pemikiran – pemikirannya yang didukung kepribadian penuh kesungguhan dalam mengetengahkan pandangan keagamaan yang benar, menimbulkan dorongan dan keberanian bagi pemimpin – pemimpin organisasi semisal Muhammadiyah, Persis, dan Jong Islamieten Bond.





DAFTAR PUSTAKA

Affandi, B. 1999. Syaikh Akhmad Syurkati (1874-1943) Pembaharu dan Pemurni Islam di Indonesia. Jakarta: Al-Kautsar.

Al-Irsyad, Dewan PP. 1981. Pedoman Dasar AD/ART Program Perjuangan Ikhtisar Sejarah Al-Irsyad. Jakarta: tanpa penerbit.

Azra, A. 2004. Jaringan Ulama Timur Tengah dan Kepulauan Nusantara Abad XVII dan XVIII. Jakarta: Kencana
Wahid, Achmadi, Drs. 2008, Sejarah Kebudayaan Islam, Menjelajahi Peradapan Islam, Jakarta:

1 komentar: